Rabu, 15 Agustus 2012

surat untuk mu mawar

~@~@ Surat Dalam Gelisah ~@~


Teruntuk She

Disuatu tempat yang aku rindukan untuk bersama.

Hari ini, adalah kesekian hari aku menantimu. Menunggu dalam diam yang berkecamuk dengan sejuta harap. Menanti jawaban yang tak pernah datang. Aku kembali terdiam dengan sekian tanya dan jawaban yang aku buat sendiri. Apakah kamu masih merinduku, apakah kamu masih mau mendengar perkataanku. Dan sampai kapan aku harus menunggu semua ini berakhir.

Dialog dalam kesendirian itu lahirkan jawaban yang samar. Namun seakan pasti karena semua begitu jelas terasa. Mungkin aku tak pantas untukmu. Sehingga tiada kabar untukku, bahkan sampai aku tulis surat ini untukmu, aku tak pernah mendapat ucapan apapun darimu.

She

Benarkah apa yang aku kira itu? Bahwa aku memang tidak lagi menjadi seseorang yang kamu rindukan. Saat ini aku merasa, harapan demi harapan yang aku kumpulkan itu telah sirna. Seiring dengan kepergianmu yang tak pernah aku tahu berada dimana.

Aku menyadari sepenuhnya. Terlalu banyak perbedaan yang kita hadapi. Dan anakku adalah salah satu yang membuatmu berat untuk berfikir kembali. Karena dia akan berada di tengah-tengah kita. Seandainya kita jadi bersama.

Tak ada bisa yang kulakukan selama ini, selain menerima apa adanya. Namun, aku hanya ingin meminta jawaban. Iya atau tidak. Itu saja.

She

Memang baru tiga hari kita tak bertemu. Selama itulah aku tak mendapat kabar darimu. Aku memang terlalu cepat untuk berfikir jauh tentang semuanya. Karena aku terlalu merindukanmu. Ingin untuk kembali bercerita tentang apapun yang ada di sekitarmu dan apapun yang menimpaku.

Kamu juga tau kan? Setiap pagi sebelum aku membaca sms yang ada di handponeku, aku selalu mengucapkan “Selamat pagi” untukmu. Dan aku selalu memberikan kata-kata ucapan selamat malam sebisaku. Saat kamu atau aku berpamitan untuk tidur.

Sehingga saat ini ketika aku tak mendapat satupun balasan sms dan inbok yang kukirimkan. Aku begitu gelisah, resah dan merasakan sesuatu yang telah hilang. Seakan tidak lengkap lagi sarapanku di pagi hari. Dan membuat makan malamku tak seperti sebelumnya. Selalu terasa sesuatu yang tak utuh lagi. Aku merindukanmu. Sangat!.

She

Aku tidak tau apa yang terjadi selama tiga hari kebelakang. Semenjak kita terakhir bertemu itu. Harapanku saat kutulisakan surat ini, kamu bisa membacanya dan segera memberiku kabar.

Baik buruk aku akan menerimanya. Aku juga tidak akan memaksakan kehendakku. Tentang kesedianmu untuk menjadi istriku. Karena aku pernah menikah itu. Aku juga tau diri dan tidak bisa mengelak. Aku memberikan kejujuran itu kepadamu sebagai bukti. Bahwa aku tidak main main. Aku memang tulus mencintaimu.

Terakhir aku tulisan dalam surat ini. Adalah ucapan sebagai doa. Semoga kamu baik-baik saja. Aamiin...


* <= star

Salam sayang selalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar