~@~@ Surat Dalam Gelisah ~@~
Teruntuk She
Disuatu tempat yang aku rindukan untuk bersama.
Hari ini, adalah kesekian hari aku menantimu. Menunggu dalam diam yang
berkecamuk dengan sejuta harap. Menanti jawaban yang tak pernah datang.
Aku kembali terdiam dengan sekian tanya dan jawaban yang aku buat
sendiri. Apakah kamu masih merinduku, apakah kamu masih mau mendengar
perkataanku. Dan sampai kapan aku harus menunggu semua ini berakhir.
Dialog dalam kesendirian itu lahirkan jawaban yang samar. Namun seakan
pasti karena semua begitu jelas terasa. Mungkin aku tak pantas untukmu.
Sehingga tiada kabar untukku, bahkan sampai aku tulis surat ini untukmu,
aku tak pernah mendapat ucapan apapun darimu.
She
Benarkah apa yang aku kira itu? Bahwa aku memang tidak lagi menjadi
seseorang yang kamu rindukan. Saat ini aku merasa, harapan demi harapan
yang aku kumpulkan itu telah sirna. Seiring dengan kepergianmu yang tak
pernah aku tahu berada dimana.
Aku menyadari sepenuhnya.
Terlalu banyak perbedaan yang kita hadapi. Dan anakku adalah salah satu
yang membuatmu berat untuk berfikir kembali. Karena dia akan berada di
tengah-tengah kita. Seandainya kita jadi bersama.
Tak ada bisa
yang kulakukan selama ini, selain menerima apa adanya. Namun, aku hanya
ingin meminta jawaban. Iya atau tidak. Itu saja.
She
Memang baru tiga hari kita tak bertemu. Selama itulah aku tak mendapat
kabar darimu. Aku memang terlalu cepat untuk berfikir jauh tentang
semuanya. Karena aku terlalu merindukanmu. Ingin untuk kembali bercerita
tentang apapun yang ada di sekitarmu dan apapun yang menimpaku.
Kamu juga tau kan? Setiap pagi sebelum aku membaca sms yang ada di
handponeku, aku selalu mengucapkan “Selamat pagi” untukmu. Dan aku
selalu memberikan kata-kata ucapan selamat malam sebisaku. Saat kamu
atau aku berpamitan untuk tidur.
Sehingga saat ini ketika aku
tak mendapat satupun balasan sms dan inbok yang kukirimkan. Aku begitu
gelisah, resah dan merasakan sesuatu yang telah hilang. Seakan tidak
lengkap lagi sarapanku di pagi hari. Dan membuat makan malamku tak
seperti sebelumnya. Selalu terasa sesuatu yang tak utuh lagi. Aku
merindukanmu. Sangat!.
She
Aku tidak tau apa yang
terjadi selama tiga hari kebelakang. Semenjak kita terakhir bertemu itu.
Harapanku saat kutulisakan surat ini, kamu bisa membacanya dan segera
memberiku kabar.
Baik buruk aku akan menerimanya. Aku juga
tidak akan memaksakan kehendakku. Tentang kesedianmu untuk menjadi
istriku. Karena aku pernah menikah itu. Aku juga tau diri dan tidak bisa
mengelak. Aku memberikan kejujuran itu kepadamu sebagai bukti. Bahwa
aku tidak main main. Aku memang tulus mencintaimu.
Terakhir aku tulisan dalam surat ini. Adalah ucapan sebagai doa. Semoga kamu baik-baik saja. Aamiin...
* <= star
Salam sayang selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar